Monoja68’s Weblog

RedhaMu, Tuhan!

POLITIK OH POLITIK 3

POLITIK OH POLITIK 3

Masjid antara tempat yang dilarang membicarakan hal politik. Saya tidak peduli larangan yang dikeluarkan oleh pihak yang kolot itu. Kenapa ? Sebab imam/ khatib jumaat sentiasa mengingatkan semua orang yang hadir solat Jumaat samada ahli politik, ahli ekonomi, ahli sosial, ahli agama, ahli sukan dan sebagainya agar bertaqwa, di atas mimbar dalam masjid! Taqwa itu bermaksud menjaga diri daripada menipu rakyat, rasuah, pilih kasih, pecah amanah, tidak menjalankan hukum Allah dan sebagainya. Ah, Khatib pun membicarakan urusan politik ? Habis, kalau tidak dipedulikan kebejatan mereka yang berkuasa dalam negara, negeri, jajahan, daerah dan kampung maka apalagi peranan khatib untuk berkhutbah ? Kejahatan tidak solat fardu seorang petani hanya melibatkan peribadinya, manakala kejahatan melarang atau mengendalakan orang ramai bersolat fardhu yang dilakukan oleh orang politik melibatkan bermacam-macam-macam taraf manusia. Mana yang lebih jahat ? Mana yang lebih perlu ditegur dan diwasiatkan dengan taqwa oleh si khatib?

Dalam kitab Riadusshoolihin, Imam Nawawi r.a. menjelaskan kelompok manusia yang boleh diumpati[1], antaranya ialah menyebut gelaran yang tidak disukai oleh tuannya tetapi perlu dinyatakan juga lantaran memperkenalkan individu yang kesamaran. Kitab ini biasanya dibaca dalam masjid. Lagi orang yang boleh diumpati ialah orang fasiq secara terang-terangan, pemimpin yang khianat, mengadu hal suami yang tidak bertanggungjawab oleh isteri dan sebagainya. Semuanya disebut dalam masjid semasa baca kitab. Kenapa tidak dilarang menyebut sebegitu, walhal jelas membicarakan tentang orang politik ?

Jelas di sini bahawa membicarakan soal politik dalam masjid memang lazim diamalkan oleh para ulama, cuma jarang menyentuh politik semasa yang meremang bulu roma. Tapi, saya percaya dan yakin bahawa membicarakan politik dalam masjid adalah wajar supaya politik umat manusia bersih dan tidak sama dengan politik golongan jin syaitan, kotor!

Ada satu lagi yang kena kita fikir-fikirkan tentang bicara politik dalam masjid ini. Apa dia ? Ha, sebenarnya persoalan ini lebih logik bagi orang yang ada akal dan, tak logik bagi orang yang tak siuman dalam berfikir. Apa dia yang satu ini? Yang satu ini ialah Tuhan yang disembah semasa dalam masjid berbezakah dengan Tuhan yang disembah luar masjid ? Kalau sama, suruhan Allah kepada semua manusia termasuk orang politik, dan larangan Allah kepada semua manusia termasuk ahli politik tertakluk dalam masjid sahaja atau terlibat di luar masjid sebagaimana terikat di dalam masjid ? Kalau serupa, kenapa nak asingkan pembicaraan amar ma’ruf nahi mungkar di dalam masjid dan di luar masjid ?

Akhirnya, berhentilah wahai orang-orang yang bebal, daripada melarang para ulama, ilmuan, khatib dan orang yang berwibawa, melarang berbicara tentang politik tanah air, politik semasa dan politik antarabangsa, supaya dengan perbicaraan tentang politik ini, masyarakat dapat suntikan kefahaman Islam yang lengkap tentang hidup beragama, hidup berTuhan! Umat Islam semestinya memahami kepentingan politik, kepentingan kuasa memerintah bagi sesebuah organisasi, kepentingan ‘tangan di atas’ atau majikan yang berkuasa menentukan polisi dalam apa jua urusan hidup pekerjanya.

 



[1] Uraian Perihal Ghibah — Mengumpat Yang Dibolehkan

Ketahuilah bahwasanya mengumpat itu dibolehkan karena adanya tujuan yang dianggap benar menurut pandangan syara’ Agama Islam, yang tidak akan mungkin dapat sampai kepada tujuan tadi, melainkan dengan cara mengumpat itu. Dalam hal ini adalah enam macam sebab-sebabnya:

 

Pertama: Dalam mengajukan pengaduan penganiayaan, maka bolehlah seseorang yang merasa dirinya dianiaya apabila mengajukan pengaduan penganiayaan itu kepada sultan, hakim ataupun lain-lainnya dari golongan orang yang mempunyai jabatan atau kekuasaan untuk menolong orang yang dianiaya itu dari orang yang menganiayanya. Orang yang dianiaya tadi bolehlah mengucapkan: “Si Fulan itu menganiaya saya dengan cara demikian.”

 

Kedua: Dalam meminta pertolongan untuk menghilangkan sesuatu kemungkaran dan mengembalikan orang yang melakukan kemaksiatan kepada jalan yang benar. Orang itu bolehlah mengucapkan kepada orang yang ia harapkan dapat menggunakan kekuasaannya untuk menghilangkan kemungkaran tadi: “Si Fulan itu mengerjakan demikian, maka itu cegahlah ia dari perbuatannya itu,” atau Iain-Iain sebagainya. Maksudnya ialah untuk dapat sampai guna kelenyapannya kemungkaran tadi. Jadi apabila tidak mempunyai maksud sedemikian, maka pengumpatan itu adalah haram

hukumnya.

 

Ketiga: Dalam meminta fatwa – yakni penerangan keagamaan. Orang yang hendak meminta fatwa itu bolehlah mengucapkan kepada orang yang dapat memberi fatwa yakni mufti: “Saya dianiaya oleh ayahku atau saudaraku atau suamiku atau si Fulan dengan perbuatan  demikian, apakah  ia berhak  berbuat sedemikian itu padaku? Dan bagaimana jalan untuk menyelamatkan diri dari penganiayaannya itu? Bagaimana untuk memperoleh hakku itu serta bagaimanakah caranya menolak kezalimannya itu?” dan sebagainya. Pengumpatan semacam ini adalah boleh karena adanya keperluan. Tetapi yang lebih berhati-hati dan pula lebih utama ialah apabila ia mengucapkan: “Bagaimanakah pendapat anda mengenai seseorang atau manusia atau suami yang berkeadaan sedemikian ini?” Dengan begitu, maka tujuan meminta fatwanya dapat dihasilkan tanpa menentukan atau menyebutkan nama seseorang. Sekalipun demikian, menentukan yakni menyebutkan nama seseorang itu dalam hal ini adalah boleh atau jaiz, sebagaimana yang akan Kami cantumkan dalam Hadisnya Hindun – lihat Hadis no. 1532. Insya Allah Ta’ala.

 

Keempat: Dalam hal menakut-nakuti kaum Muslimin dari sesuatu kejelekan serta menasihati mereka – jangan terjerumus dalam kesesatan karenanya. Yang sedemikian dapat diambil dari beberapa sudut, di antaranya ialah memburukkan kepada para perawi Hadis yang memang buruk ataupun para saksi – dalam sesuatu perkara. Hal ini boleh dilakukan dengan berdasarkan ijma’nya seluruh kaum Muslimin, tetapi bahkan wajib karena adanya kepentingan.

 

Kelima : Di antaranya lagi ialah di waktu bermusyawarat untuk mengambil seseorang sebagai menantu, atau hendak berserikat dagang dengannya, atau akan menitipkan sesuatu padanya ataupun hendak bermuamalat dalam perdagangan dan Iain-Iain sebagainya, ataupun hendak mengambil seseorang sebagai tetangga. Orang yang dimintai musyawarahnya itu wajib tidak menyembunyikan hal keadaan orang yang ditanyakan oleh orang yang meminta per-timbangan tadi, tetapi bolehlah ia menyebutkan beberapa cela yang benar-benar ada dalam dirinya orang yang ditanyakan itu dengan tujuan dan niat menasihati.

 

Keenam : Di antaranya lagi ialah apabila seseorang melihat seorang ahli agama-pandai dalam selok-belok keagamaan –yang mundar-mandir ke tempat orang yang ahli kebid’ahan atau orang fasik yang mengambil ilmu pengetahuan dari orang ahli agama tadi dan dikhuatirkan kalau-kalau orang ahli agama itu terkena bencana dengan pergaulannya bersama kedua macam orang tersebut di atas. Maka orang yang melihatnya itu bolehlah menasihatinya – yakni orang ahli agama itu – tentang hal-ihwal dari orang yang dihubungi itu, dengan syarat benar-benar berniat untuk menasihati.

 

Persoalan di atas itu seringkali disalah-gunakan dan orang yang berbicara tersebut – yakni orang yang rupanya hendak menasihati -hanyalah karena didorong oleh kedengkian. Memang syaitan pandai benar mencampur-baurkan pada orang itu akan sesuatu perkara. la menampakkan pada orang tersebut, seolah-olah apa yang dilakukan itu adalah merupakan nasihat-tetapi sebenarnya adalah karena lain tujuan, misalnya kedengkian, iri hati dan sebagainya. Oleh sebab itu hendaklah seseorang itu pandai-pandai meletakkan sesuatu dalam persoalan ini.

 

Dalil-dalil :

 

1528. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya ada sesorang lelaki meminta izin kepada Nabi s.a.w untuk menemuinya, lalu beliau s.a.w bersabda untuk menemuinya, lalu beliau s.a.w bersabda – kepada sahabat-sahabat: “Izinkanlah ia, ia adalah seburuk-buruk orang dari seluruh keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Imam bukhari mengambil keterangan dari Hadis ini akan bolehnya mengumpat pada orang-orang yang suka membuat kerusakan serta tidak berpendirian tetap.

 

1529. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: “Saya tidak menyakinkan kepada si fulan dan si fulan itu bahwa keduanya itu mengetahui sesuatu perihal agama kita”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ia berkata:

“Allaits bin Sa’ad, salah seorang yang meriwayatkan hadis ini berkata: “Kedua orang lelaki ini termasuk golongan kaum munafik.”

 

1530. Dari Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya mendatangi Nabi s.a.w. lalu saya berkata: “Sesungguhnya Abuljahm dan Mu’awiyah itu sama-sama melamar diriku.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Adapun Mu’awiyah itu adalah seorang fakir yang tiada berharta, sedangkan Abuljahm adalah seorang yang tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:

“Adapun Abuljahm, maka ia adalah seorang yang gemar memukul wanita.” Ini adalah sebagai tafsiran dari riwayat yang menyebutkan bahwa ia tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya. Ada pula yang mengartikan lain ialah bahwa “tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya” itu artinya banyak sekali bepergiannya.

 

1531. Dari Zaid bin Arqam r.a., katanya: “Kita keluar bersama Rasulullah s.a.w. dalam suatu perjalanan yang menyebabkan orang-orang banyak memperoleh kesukaran, lalu Abdullah bin Ubay berkata: “Janganlah engkau semua memberikan apa-apa kepada orang yang ada di dekat Rasulullah, sehingga mereka pergi – yakni berpisah dari sisi beliau s.a.w. itu.” Selanjutnya ia berkata lagi: “Nescayalah kalau kita sudah kembali ke Madinah, sesungguhnya orang yang berkuasa akan mengusir orang yang rendah.”

Saya lalu mendatangi Rasulullah s.a.w. dan memberitahukan hal ucapannya Abdullah bin Ubay di atas. Beliau s.a.w. menyuruh Abdullah bin Ubay datang padanya, tetapi ia bersungguh-sungguh dalam sumpahnya bahwa ia tidak melakukan itu – yakni tidak berkata sebagaimana di atas. Para sahabat lalu berkata: “Zaid berdusta kepada Rasulullah s.a.w.” Dalam jiwaku terasa amat berat sekali karena ucapan mereka itu, sehingga Allah Ta’ala menurunkan ayat, untuk membenarkan apa yang saya katakan tadi, yaitu – yang artinya: “Jikalau orang-orang munafik itu datang padamu.” (al-Munafiqun: 1)

Nabi s.a.w. lalu memanggil mereka untuk dimintakan pengampunan – yakni supaya orang-orang yang mengatakan bahwa Zaid berdusta itu dimohonkan pengampunan kepada Allah oleh beliau s.a.w., tetapi orang-orang itu memalingkan kepalanya – yakni enggan untuk dimintakan pengampunan.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1532. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Hindun yaitu isterinya Abu Sufyan berkata kepada Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang lelaki yang kikir, ia tidak memberikan nafkah yang dapat mencukupi kebutuhanku serta untuk keperluan anakku, melainkan dengan cara saya mengambil sesuatu daripadanya, sedang ia tidak mengetahuinya. “Beliau s.a.w. lalu bersabda : “Ambil sajalah yang sekiranya dapat mencukupi kebutuhanmu dan untuk kepentingan anakmu dengan baik-baik – yakni jangan berlebih-lebihan.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Petikan daripada kitab : Riaadussoolihiin oleh Imam An-Nawawi.

 

Oktober 11, 2008 - Posted by | Uncategorized

Tiada komen.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: